97. AL WARITS (Dzat Yang Maha Mewarisi) Allah Ta’ala telah mewariskan bumi beserta isinya kepada manusia. Maksudnya adalah, Allah Ta’ala memberikan hak untuk mengelola bumi ini beserta isinya (apa-apa yang dititipkan kepada kita) agar kita kelola dengan benar sesuai dengan hukum-hukum yang telah Allah Ta’ala tentukan. Selama titipan-titipan Allah Ta'ala masih ada pada diri kita, berarti hal itu masih diwariskan kepada kita, dan kita berkewajiban untuk mengelolanya dengan benar. Karena nanti kita akan dimintai pertanggung jawabannya diakhirat kelak. Akan tetapi ketika titipan-titipan itu diambil oleh Allah Ta'ala, atau dipindahkan kepada orang lain, berarti hal itu tidak diwariskan lagi kepada kita, dan secara otomatis tanggung jawab kita telah berakhir. Apabila kita bisa mengelola dengan benar, maka diakhirat nanti Allah Ta’ala akan memberikan syurga kepada kita. Akan tetapi apabila kita tidak bisa mengelolanya dengan benar, maka diakhirat nanti kita akan mempertanggung jawabkan dengan hisab yang berat dan kita akan menjadi orang yang celaka (masuk dalam neraka). Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mewarisi dan akan mewariskan kepada siapapun yang dikehendakiNya adalah hak Allah Ta’ala. Karena semua yang ada dilangit dan dibumi adalah milikNya yang diamanahkan kepada hamba-hambaNya. Dengan kata lain yang namanya manusia hanya diberi hak untuk mengelola sampai dengan batas waktu tertentu. Apakah dia akan mengelola dengan benar atau dia kelola untuk memperturutkan hawa nafsunya. Apabila seorang hamba meninggal dunia, maka apapun yang dimilikinya pasti akan dia tinggalkan dan tidak ada satupun yang dibawanya kecuali keimanan dan amal-amal sholeh. Sedangkan harta-hartanya diwarisi oleh Allah Ta'ala dan terserah kepada Allah Ta'ala akan dititipkan-Nya lagi kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Oleh sebab itu apapun yang diamanahkan oleh Allah Ta’ala harus kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk beramal sholeh sehingga menjadi bekal nanti diakhirat. Karena waktu yang diberikan oleh Allah Ta'ala untuk mengelola titipan-titipanNya adalah sampai batas ajal. Apabila kita salah mengelola sampai ajal kita menjemput, maka diakhirat nanti kita akan masuk neraka. Jangan sekali-kali kita menjadi orang yang kikir terhadap rizki-rizki yang telah Allah Ta’ala titipkan kepada kita. Karena apabila kita sudah mati, maka sebanyak apapun rizki yang kita miliki akan kita tinggalkan dan akan menjadi hak warits. Sedangkan diakhirat kelak kita akan mempertanggung jawabkan semuanya. Surat Muhammad (47) : 38 38. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu ini. Sesungguhnya manusia sangat kikir karena diajak untuk kemanfaatan dirinya sendiri tidak mau. Padahal harta yang banyak kalau sudah mati tidak bisa dimanfaatkan lagi. Dan hukum waris ada ditangan Allah dan akan diwariskan kepada siapapun menjadi hak Allah. Oleh sebab itu sangat rugi jika mendapat titipan tidak kita pakai untuk beramal sholeh atau amal jariyah. Karena nanti kita akan menjadi orang yang paling miskin diakhirat sebab tidak bisa mempertanggung jawabkannya. Dalam hidup ini kita selalu menyiapkan harta yang banyak untuk kebutuhan anak-anak kita sehingga menghambat kita untuk beramal sholeh. Padahal seharusnya kita tanamkan kepada anak-anak adalah keiimanan, ketaqwaan dan ketawakkalan. Karena inilah modal hidup yang bisa menyelamatkan didunia maupun diakhirat. Oleh sebab itu apabila kita menahan harta untuk kebutuhan sang anak, dan ternyata harta tersebut dipakai tidak benar (untuk mengikuti nafsu) maka kita akan mendapatkan syafaat buruk (memperoleh bagian dari dosanya). Akan tetapi apabila kita sudah menafkahkannya secara maksimal tetapi masih ada sisa sehingga menjadi hak warits, maka kita tidak mendapatkan syafaat buruk. Dipadang mahsyar nanti semua orang dalam keadaan khawatir. Sehingga andaikata keluarga, kerabat dan orang lain bisa dia gadaikan untuk menebus dari azab api neraka, niscaya akan kita lakukan. Surat Al Ma'arij (70) : 11 – 15 11. Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, 12. Dan isterinya dan saudaranya, 13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). 14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. 15. Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Didalam satu keterangan dijelaskan, ada orang tua yang mempunyai harta yang banyak tetapi kikir tidak mau menafkahkan hartanya dijalan Allah Ta’ala. Setelah dia mati, otomatis hartanya menjadi hak waris anaknya. Kemudian harta tersebut dikelola oleh anaknya dengan benar, yaitu dipakai untuk berinfaq dijalan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu diakhirat nanti, orang tuanya masuk neraka sedangkan anaknya masuk syurga. Kita ini adalah orang-orang yang mewarisi orang-orang yang sebelum kita. Dan setelah kita mati juga akan diwarisi oleh orang-orang yang sesudah kita. Dan semua itu pada hakikatnya adalah kepunyaan Allah Ta'ala. Oleh sebab itu sebanyak apapun harta yang kita miliki, apabila kita sudah mati maka tidak akan ada guna sedikitpun. Kecuali harta-harta yang kita nafkahkan dijalan Allah Ta'ala. Rasulullah SAW bersabda : “Ditanyakan kepada salah seorang penghuni neraka pada hari kiamat kelak : “Bagaimana pendapatmu jika engkau mempunyai dunia beserta isinya, apakah engkau bersedia untuk menjadikannya sebagai tebusan?” Maka mereka menjawab : “Ya, aku bersedia”. Kemudian Allah Ta'ala berfirman : “Sesunguhnya Aku telah menghendaki darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu. Aku telah mengambil perjanjian darimu ketika masih berada dipunggung Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, tetapi engkau menolak dan tetap mempersekutukan Aku”. (HR. Bukhari Muslim) Disini bisa kita fahami bahwa keimanan lebih mahal dari pada emas dan bumi beserta isinya. Oleh sebab itu semua para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Ta'ala menyampaikan tentang keimanan (ketauhidan) kepada Allah Ta'ala. Sesuai surat Al Anbiyaa’ (21) : 25 25. Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kita mempergunakan apa-apa yang dititipkan Allah Ta'ala kepada kita untuk sebuah ketaqwaan? dan seberapa banyak kita kikir didalam mengeluarkannya sehingga harta tersebut tidak berguna untuk kehidupan akhirat kita? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu mempergunakan apa-apa yang Engkau wariskan kepada kami untuk beramal ibadah dan beramal sholeh. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa apapun yang dia miliki didunia ini semata-mata hanyalah titipan dari Allah Ta'ala yang diwariskan kepadanya, agar dia kelola dengan benar sehingga bisa menjadi amal diakhirat kelak. Oleh sebab itu sedikitpun dia tidak merasa memiliki. Dia yakin semua itu hanyalah warisan (titipan) dari Allah Ta'ala sampai pada batas waktu tertentu. Dan setelah dia mati semua itu akan kembali kepada yang punya yaitu Allah Ta'ala. Dan terserah Allah Ta'ala akan mewariskannya kembali kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi didalam kehidupan ini Allah Ta'ala telah membuat hukum, bahwa apabila hambaNya menerima titipan dari-Nya, maka hal itu telah menjadi hak sang hamba. Sehingga apabila ada orang lain yang merampasnya, maka Allah Ta'ala akan menghukum orang yang merampas tersebut. Ibaratnya ada orang tua yang memberi uang kepada anaknya 10 ribu, tetapi dirampas oleh anaknya yang lain. Tentunya sebagai orang tua dia akan marah kepada anaknya yang merampas itu. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia sangat bersyukur menerima warisan (titipan) dari Allah Ta'ala. Karena dengan warisan itulah dia bisa beramal sholeh. Oleh sebab itu dia akan menggunakan apa-apa yang diwariskan Allah Ta'ala tersebut untuk melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya. Dan dia sangat malu kepada Allah Ta'ala apabila warisan itu dia pakai untuk kedurhakaan. Dia sangat takut jika meninggalkan harta yang banyak setelah dia mati. Oleh sebab itu harta-hartanya akan dia infaqkan dijalan Allah Ta'ala, setelah tercukupi kebutuhan dirinya dan keluarganya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kiranya Engkau mengingatkan kami apabila kami salah didalam pengelolaan apa-apa yang Engkau wariskan kepada kami untuk kefasikan. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah menggunakan titipan-titipan Allah Ta'ala untuk beramal sholeh, maka masalah hasilnya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dan dia selalu berdo’a agar ditambah kekuatan oleh Allah Ta'ala untuk bisa menjadi orang yang amanah didalam mengelola titipan-titipan-Nya. G. Sikap Orang Mukhlis Dia tidak pernah mempermasalahkan berapapun titipan yang Allah Ta'ala berikan kepadanya. Berapapun titipan yang Allah Ta'ala berikan kepadanya dia terima dengan ikhlas dan tidak iri kepada orang lain yang diberi lebih. Setelah itu titipan tersebut akan dia gunakan untuk melakukan amal-amal sholeh. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Warits Apabila telah menjadi kholifah Allah, maka ia akan merasakan kehidupan yang benar-benar bahagia didunia dan akhirat. Dalam hidupnya selalu memegang keimanannya kepada Allah dan beramal sholeh sebagai pembuktian atas keimanannya. Dan ia tidak pernah membuat kerusakan dimuka bumi, serta memanfaatkan apa-apa yang diberikan Allah Ta'ala semaksimal mungkin untuk kehidupan akhirat. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Warits Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia dalam mempergunakan apa-apa yang Engkau wariskan kepada mereka hanya untuk beramal ibadah dan beramal sholeh. Sehingga manusia dapat mengetahui bahwa sangat berat hisab mereka diakhirat kelak apabila menggunakan apa-apa yang Engkau wariskan tidak untuk beramal ibadah dan beramal sholeh.